Pasar Industri Dirgantara Diprediksi Tumbuh Pesat
Pasar industri dirgantara di dunia menurut perusahaan Boeing akan terus booming dalam waktu 20 tahun ke depan. Perusahaan AS itu memperkirakan kenaikan rata-rata lalu lintas udara per tahun sekitar lima persen.
Karena itu, kebutuhan atas pesawat jet baru meningkat keras, apalagi mengingat maskapai-maskapai harus mengganti armada pesawat tuanya. Penggantian ini perlu untuk mendapatkan pesawat baru yang lebih hemat dan sebab itu dapt menekan biaya maskapai.
Dalam prediksi jangka panjangnya hingga tahun 2027, perusahaan industri dirgantara Amerika Serikat, Boeing memperkirakan akan menjual lebih dari 29 ribu pesawat jet baru dengan nilai total sekitar dua triliun Euro. Randy Tinseth, Kepala bagian marketing Boeing untuk pesawat transpor, selain itu memprediksi bahwa
pesawat jet regional kecil dengan kapasitas tempat duduk di bawah 50 lambat laun tidak lagi akan memainkan peranan karena biaya operasinya terlalu mahal. Sebab itu produksi segmen pesawat terbang dengan kapasitas tempat duduk lebih dari 100 yang hingga kini didominasi perusahaan Boeing dan Airbus, akan ditingkatkan. Ke depan, Rusia, Cina dan Jepang juga akan memproduksi pesawat terbang untuk kebutuhannya sendiri. Randy Tinseth:
"Kami memang memperkirakan, setidaknya satu perusahaan baru akan masuk ke pasaran. Jelas bahwa beberapa perusahaan dan negara punya ambisi dalam hal ini. Secara pribadi saya pikir, persaingan bagus untuk kami. Perusahaan baru yang akan bersaing dengan kami dan Airbus, mungkin punya ide dan teknologi baru. Kalau kami ingin tetap sukses, kami harus lebih baik."
Menurut perkiraan Boeing, pasaran masa depan akan dikuasai yang dinamakan Single-Aisle-Jets, yaitu jenis pesawat yang berlorong satu di antara deretan kursi penumpang, misalnya pesawat Boeing 737 dan Airbus A-320-Family. Sesudahnya menyusul pesawat lebih besar dengan dua lorong untuk 200 hingga 400 penumpang dan biasanya untuk penerbangan jarak jauh. Kemudian pesawat berbadan lebar bertingkat dua, misalnya pesawat Airbus A 380 dan Boeing 747 yang dipermoderen sebagai 747 versi 8. Kembali Tinseth:
"Pers tentunya langsung menyoroti A 380 dan 747. Tapi harus dilihat bahwa sejak awal program A 380 tahun 2000, secara keseluruhan 14. 000 pesawat dipesan. Dari jumlah itu hanya 400 pesawat jet berbadan super lebar. Kami selalu mengatakan, ini pasar yang relatif kecil, tapi penting. Karena itu kami menginvestasi pada pengembangan 747-8."
Dalam perkiraan untuk 20 tahun mendatang, Boeing bertitik tolak dari harga minyak yang diduga pada tahun-tahun mendatang rata-rata sama dengan harga saat ini, namun dalam jangka panjang diperhitungkan menurun menjadi sekitar 70 sampai 80 dollar per barrel. Jika harganya naik, maka ini akan sangat melemahkan konjunktur dunia dan mempengaruhi bisnis industri dirgantara. Namun, Boeing selalu membangga-banggakan ketepatan prediksi jangka panjangnya di masa lalu. Selain itu Boeing berharap memenangkan tender ulang pesawat pengisi bahan bakar militer AS yang bernilai miliaran dollar. Tender sebelumnya yang dimenangkan Airbus dibatalkan akibat kesalahan dalam proses tender.
0 komentar:
Posting Komentar